Searching ...
    Report bug at Discord Server only. Any attempts to troll the review will be banned permanently.
    Discord

    Sabitah

    Chapter 1


    Translated by Reina Relistha
    Edited by


     

    Act. 1

    ‘Bisakah dunia berbaik hati?’

    —oOo—

     

     

     

    TERTANGKAP KAMERA, AYARA DAFHINA KELUAR DARI “E” HOTEL

     

    TUDUHAN PERSELINGKUHAN ARTIS ANGKASA MANAGEMENT, AD DENGAN SEORANG PENGUSAHA MINUMAN

     

    AYARA DAFHINA DILAPORKAN KE POLISI ATAS TUDUHAN PENGGUNAAN NARKOBA

     

    PEMAIN SINETRON BERINISIAL AD DIDUGA TERLIBAT PROSTITUSI ONLINE 

     

    RANIA GISTARA BUKA SUARA, “KADANG SAYA TIDAK BISA MENEBAK PIKIRAN YARA.”

     

    ….

     

    ….

     

    ….

     

    Yara melempar ponselnya hingga membentur dinding, sebuah teriakan putus asa terdengar di ruangan seluas 25 meter persegi itu. Rambutnya berantakan. Dengan wajah penuh air mata, Yara memeluk lutut dan membenamkan wajah di antara kakinya.

     

    Semua judul berita yang baru saja dia baca memenuhi pikiran gadis berambut sepunggung itu, dengan satu kalimat lebih menyakitkan dari kalimat lainnya. Yara tidak bisa mengerti kesalahan apa yang telah dia perbuat hingga harus mengalami ini semua. Bukankah sudah cukup dengan pengalaman hidupnya? Yara hanya ingin hidup tenang.

     

    Dering ponsel yang tak disangka mengganti isak tangis yang terdengar di apartemen studio Yara. Tidak tahu apakah dia harus tertawa atau menangis, itu bukan ponsel mahal, jadi kenapa harus tahan banting disaat seperti ini? Enggan, Yara hanya menatap kosong ponsel yang terus berdering itu, hingga akhirnya semakin lama terasa mengganggu.

     

    Menggigit bibirnya menahan emosi, hingga merasakan besi pada ujung lidah, Yara kemudian merangkak menghampiri ponselnya. Retakan yang bagai jaring laba-laba memenuhi layar sentuh ponsel Yara, tapi foto yang tertera bisa diidentifikasi  sebagai milik ayah tirinya. Tangan Yara gemetar, mengangkat ponsel itu dan menggeser tombol jawab.

     

    “Bikin malu! Lu udah gak perawan? Pakai narkoba?! Kalau banyak duit kayak gitu, kenapa gak ngasih ke gue?! Gue hampir mati gara-gara rentenir!”

     

    “Pa,…” Suara Yara gemetar.

     

    Tapi bahkan yang di ujung sana terdengar tak peduli, “Kirimin gue duit sekarang!”

     

    “Pa, Yara gak punya uang.”

     

    “Lu gak usah nipu gue! Lu pikir gue bodoh? Berapa banyak yang lu dapat dari jual diri? 50 juta? 100 juta? Ah gak mungkin 100 juta, jadi artis lu juga gak tenar-tenar amat. Kirimin gue 50 juta aja kalau gitu.”

     

    Air mata kembali meleleh di wajah kemerahan Yara, sekuat tenaga gadis itu menahan isak. Kuku-kukunya sudah menancap di salah satu telapak tangan, tapi bahkan gadis dengan mata kecoklatan itu tak merasakan sakit. “Pa, Yara gak jual diri, jadi Yara gak punya uang.”

     

    “Segitu gak maunya lu ngasih gue duit?”

     

    “Pa, Yara gak bohong, Yara gak punya uang.” Jeda sesaat, namun sebelum pria di sebrang telepon sempat berkata lagi, Yara memotong ucapannya. “Yara mohon Pa, Yara lagi banyak masalah, Papa jangan tambahin masalah Yara. Kepala Yara pusing Pa, Yara cuma butuh ketenangan sebentar.”

     

    “Jadi maksud lu, gue yang bikin lu tambah pusing?”

     

    “Bukan gitu, Pa….”

     

    “Pokoknya, lu harus transfer itu duit, kalau gak gue bakal datang ke perusahaan lu. Mereka pasti bisa ngasih gue duit.”

     

    “Pa….” Sebelum Yara bisa menyelesaikan kata-katanya sambungan telepon itu sudah terputus.

     

    Yara menatap layar ponsel yang perlahan menggelap. Ada ketakutan yang merayapi pikirannya atas ancaman ayah tirinya. Selama ini Yara selalu berusaha menjauhkan ayahnya dari perusahaan, dia takut  kalau ayah tirinya akan menyebabkan kesalahpahaman. Sekarang dia tidak tahu apa yang paling dia takuti, ayah tirinya atau skandal di luar sana.

     

    Yara menjambak rambutnya, kembali merasa frustasi.

     

    Tapi mungkin bahkan untuk merasakan frustasi merupakan suatu kemewahan, karena untuk kedua kalinya ponsel Yara berbunyi. Kali ini, foto Rania yang tertera di layar yang retak.

     

     “Halo?” Dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Rania, Yara malu tapi juga kecewa. Di saat seperti ini, di mana dia membutuhkan dukungan paling besar, dia tidak bisa menemukan Rania di manapun.

     

    “Yara? Lu gak apa-apa?” Ada suara berisik di belakang Rania, seakan gadis itu menghubunginya ditengah sebuah pesta yang berlangsung.

     

    “Ran, lu di mana?” Sedikit harapan, mungkinkah Rania menghubunginya untuk menghibur?

     

    “Gue di Gills Hotel. Lu bisa ke sini?”

     

    Yara terdiam, dia tidak mengerti dengan reaksi Rania. Bukankah dia tahu apa yang tengah menimpa Yara saat ini? Tapi kenapa Yara merasa Rania terlalu acuh? “Ran, gue—“

     

    “Ayolah, temenin gue. Lagian tadi gue ngeliat Riga, lu gak penasaran?”

     

    “Ada riga disini, lu cepetan datang sebelum dia hilang. Elm Hotel ya.”

     

    “Mbak, Mbak Ayara Dafhina? Mbak punya pesan.”

     

     

    Gue tunggu di kamar 701

    Auriga Davanka

     

     

    “Ran, terakhir kali gara-gara dia gue,…” Yara menelan ludah tak mampu melanjutkan, hanya air matanya yang kembali menuruni pipi gadis itu. “Dan lu bahkan gak ngebantuin gue? Bukannya lu harusnya ada di sini? Nemenin gue? Lu bahkan gak bantuin gue di media! Apa gue masih temen lu, Ran?”

     

    Sejenak, tak ada suara dari sisi Rania, namun kemudian suara berisik yang semula menjadi latar belakang gadis itu perlahan menghilang, dan suara manis Rania kembali terdengar. “Justru karena gue tahu masalah lu, makanya gue ajak lu ke sini. Supaya lu lupa sejenak. Soal media, gue minta maaf Yar, manejer gue yang maksa.”

     

    “Tapi gue bahkan berkali-kali ngorbanin diri buat lu, kenapa lu bahkan gak bisa nolongin gue sekali ini?”

     

    “Yar, lu tau kan? Gue baru aja menangin casting buat film terbaru. Mas Ibram bilang, gue gak boleh kesorot media atas skandal  apapun. Ini bukan film kecil, Yar, ini filmnya sutradara Nur Hakim, dan gue susah payah buat dapetinnya.”

     

    “Jadi, menurut lu, persahabatan kita gak lebih penting dari film lu?”

     

    “Yar, bukan gitu, tapi lu realistis ajalah. Ah pokoknya lu datang aja dulu ke sini, nanti gue jelasan.”

     

    “Gak perlu, Ran, gue udah paham.”

     

    “Yar, please, lu harus ke sini dulu. Lagian apa lu gak mau ngelihat Riga?”

     

    “Di antara semua orang, lu harusnya paling tahu, dia adalah nama yang gak boleh lu sebut.” Tanpa menunggu Rania membalas, Yara kemudian memutuskan sambungan teleponnya.

     

    Gadis itu kembali menatap ponsel yang menggelap di tangannya, pandangannya datar, air mata telah lama berhenti, pikirannya kosong. Hingga sebuah pesan baru muncul di layar, mendorong pesan-pesan lama yang telah tertumpuk tak dibaca. Dari nomor asing, sebuah lampiran video.

     

    Bukannya Yara tak punya firasat, jemarinya saja sudah gemetar. Tapi justru karena itu, layar terbuka dan pesan video itu terputar. Sebuah ruangan dengan cahaya redup, dan sosok seorang gadis berambut panjang di atas tempat tidur. Seorang pria yang kemudian berlutut di atas  tubuhnya membuka satu demi satu kancing gadis itu, tapi gadis itu tetap tak bergerak.

     

    Yara kemudian membanting ponsel itu ke lantai berkali-kali, berteriak penuh kebencian. Rasanya menjijikan, ingatan itu menjijikan, dan diputar ulang membuatnya mual. Melepaskan ponsel yang telah hancur berantakan, Yara berlari ke kamar mandi. Memuntahkan asam lambung ke dalam  toilet hingga perutnya terasa menyakitkan. Protes terhadap rasa mual yang memaksanya untuk terus muntah sementara tak ada satupun yang bisa dia muntahkan lagi. 

     

    Sejenak kemudian, Yara kembali menangis, terduduk di atas lantai kamar mandi yang dingin dan memukul-mukul kepalanya dengan tangan, berharap dia bisa menghapus kenangan itu. 

     

    —atau bahkan lebih baik untuk menghapus dirinya?

     

    ***

     

    Air yang menetes dari shower di dinding mengalir deras bagai hujan pada kamar mandi yang dingin. Membasuh setiap percikan merah yang menodai lantai. Sedikit demi sedikit cairan yang lengket pada pergelangan putih itu mengencer, dan menghilang pada pembuangan. Sementara tubuh yang tak bergerak perlahan menghilang dari kesadaran, sedikit demi sedikit, mulai mendingin.

     

    Ayara Dafhina, menyerah pada kehidupan dengan penuh penyesalan di hatinya.


    Read only at Travis Translations


     

    Hikaru

    Travis Translation

    The donation will go towards site costs and development.

    Report This Chapter

    I would like to

    error: Content is protected !!